rose-cerpen-made-birus

Woho! Bukan persoalan mudah menjadi orang jujur, rendah hati, penuh cinta dan selalu berpikiran positif. Aku yakin semua orang akan menganggapku narsis, over pede kalau aku mengatakan aku adalah orang paling positif, jujur dan selalu baik kepada setiap orang, bahkan sudah bermula dari dalam hatiku, bukan sekedar lipstick yang manis di bibir tapi sepahit empedu di dalam hati. Terus terang, hanya kejujuran itu modalku menjalani hidup, termasuk kehidupan percintaan.

May, gadis manis yang begitu sering mengirimkan puisi indah untukku. Puisi-puisi itu telah banyak menginspirasi lagu-lagu dalam album terbaruku. Oh ya, aku seorang penyanyi sekaligus komposer. Aku sering menggarap musik untuk kawan-kawan baikku. Sekali lagi aku bukan sombong, aku hanya mengatakan sejujurnya. Setiap lagu yang musiknya aku kerjakan selalu laris manis dan menduduki deretan top ten di mana-mana bahkan kadang viral di media sosial.

Kembali lagi kepada May. Setiap orang pasti menebak kalau dia lahir bulan Mei. Hem, kalian salah besar. May lahir bulan Juni. Aku tidak tahu, apakah orang-orang yang lahir bulan Juni semuanya seasik dan semenarik May.

Sejak pertemuan pertama kami dalam program televisi, kencan buta bareng artis, aku sudah merasa ada getaran aneh. Dia beda dengan fans lain yang biasanya suka berteriak-teriak, ”Jozi! Jozi!” dan mereka akan mengejar-ngejarku mencari kesempatan mencubit, yang lebih parah lagi kalau ada yang mendaratkan tamparan di wajahku dan berharap aku akan melaporkan mereka ke polisi dan jadi viral di mana-mana.

Sedangkan May selalu terkesan tenang, gak gampangan. Misterius! Dia selalu sanggup menahan gejolak perasaannya tanpa diekspresikan secara berlebih. Senyumnya membuatku megap-megap menahan birahi. Tiga lagu aku ciptakan khusus untuk memuja senyum manis itu.

Baiklah, aku katakan pada kalian bahwa aku sudah menyunting May menjadi kekasih seminggu sebelum peluncuran albumku yang ke-5. Jangan menuduhku memanfaatkan aji mumpung ngetop, lalu seenak hati menggaet setiap fans yang bertampang manis. Oh tidak! Janganlah kalian kejam pada diriku. Bukankah sudah aku katakan bahwa aku orang yang jujur dan baik hati. Dan perlu kutambahkan bahwa aku tipe setia pada satu pasangan. Poligami? Oh, Noway!

Aku sadar bahwa aku bukan tipe laki-laki romantis. Lagu-lagu yang aku ciptakan memang selalu romantis dan membuat semua perempuan terlena, tapi kalian boleh tanya pada May, dia masih hidup, dia boleh bersaksi. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang romantis seperti dalam lagu yang aku ciptakan? Dia pasti menjawab “Never!”.

Seperti sahabatku, kau pasti mengatakan bahwa May sudah tertipu, jatuh cinta pada plyboy kacangan. Tapi mereka hanya iri, menuduhku sebagai laki-laki penipu bermulut manis penuh bisa.

“Kau hanya manusia pencemburu, susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah.”

“Joz, kami sahabatmu. Tidak ada cemburu. Buka matamu! Lihat keluar! siapa sebenarnya May? Dunia ini berputar Joz, semua tidak kekal, hanya perubahan yang abadi. Juga hati May, dia masih sangat muda dan penuh gejolak. Bagai butir apel ranum yang menggoda  siapapun untuk menyentuhnya. Bangun Joz!”

“Hei! Kalian hanya menginginkan Mayku yang ranum. Percintaan kami terlalu indah untuk kalian hancurkan”

“Joz, kenapa cinta membuatmu semakin goblok?”

Apa kau juga memikirkan hal yang sama seperti sahabatku? Aku goblok? Oh, nasibku. Bahkan mereka yang mengaku sahabat meninggalkanku dan mengucilkanku dalam dunia yang luas ini.

Aku katakan padamu; benar bahwa telponku tidak pernah diangkat. Pesanku tidak pernah dibalas. Tapi bukan berarti dia meninggalkanku. Sahabat-sahabatku terlalu pendek akal, munafik. Termasuk gosip serong dan selingkuh untuk menarik keuntungan agar reting acara TV mereka naik. Agar oplah tabloid picisan mereka meningkat. Puih!

Kau tahu, sahabatku bahkan bertindak seolah mereka pisikolog dan peramal masa depan. Memaksakan opini mereka.

“Joz, kau tau aku sahabat baikmu. Aku seorang perempuan, tidak mungkin merebut May. Cinta bukan sekedar syair dalam lagu, perempuan perlu sentuhan nyata dari hati-kehati. Kami perlu dimanja, disayang, bukan cuma disuruh mendengarkan CD. Dan aku ingin mengatakan, kau telah gagal dalam kehidupan nyata. Itu kenapa May mencampakkanmu!”

“Hei, Kau cuma iri pada May! Tidakkah kau ingin membiarkan May bahagia bersamaku? Dia memang perempuan beruntung yang meluluhkan hatiku.”

“Oh Joz, kenapa cinta membuatmu semakin gila?”

Kau bisa bayangkan rasanya saat sahabatmu menuduh kau gila? Betapa perih hati ini ketika mereka menyiramkan cuka pada lukaku.

Aku buka rahasia padamu. Tapi ingat! jangan pernah bercerita pada mereka. Aku tahu semua desas-desus tentang May di belakangku. Untuk sebuah reputasi aku berusaha menutupinya, membohongi semua orang. Skandal yang paling besar adalah aku telah membohongi diriku sendiri.

Oh, ini adalah aib terburuk dalam sejarah karirku. Bayangkan, seorang Jozi telah dikhianati, dicampakkan! Oh, baiklah aku akui di hadapanmu bahwa ini kenyataan. Aku dikhianati. Tapi tolong jangan hukum aku dengan kata dicampakkan, karena itu memuakan sekali.

Begini, setelah banyak rahasia kecil itu. Oh, hei! Apakah itu rahasia kecil? Aku yakin kau menganggap itu rahasia  besar karena aku artis. Tapi kau kuanggap sahabatku, kau boleh tahu semuanya.

Baiklah, aku lanjutkan ceritaku. May menelponku malam itu. Suaranya lirih seperti biasa, tapi aku dapat menangkap keraguan, ketakutan dan penyesalan. Aku telah mengenalnya dengan baik sehingga dapat merasakan apa yang dia rasa, bahkan aku dapat membayangkan bibir merahnya yang merekah dan basah bergetar saat berucap. Wajahnya yang merona merah, matanya yang berkaca-kaca. Aku dapat membayangkan betapa cantiknya dia malam itu.

“Hallo May, apa kabarmu? aku sangat merindukanmu.” aku memecah kekeluan yang menyelimuti percakapan kami. Tapi aku hanya mendengar desah pelan. Aku yakin May mulai menangis saat itu, air matanya mulai bergulir di pipinya yang halus. “Katakan sesuatu. Bicaralah! Aku masih mendengarmu.”

“Joz… aku mohon kau memaafkanku.”

“May, kau sudah mengenalku, kapan aku bisa pelit akan maaf. Apapun itu, aku akan menerima dengan lapang dada. Aku pasti memaafkanmu.” ucapanku cukup lama tidak berbalas, hanya terdengar isak kecil dari seberang sana. “May…?”

“Joz, maafkan aku, aku hanya perempuan pengkhianat. Maafkan aku! Tut, tut, tut, tut…”

“May hallo…”

Kau pasti sudah tau, itu artinya percakapan kami terputus sampai disitu saja. Tapi tidak apa-apa, paling tidak itu adalah awal yang baik. Aku yakin selanjutnya akan jauh lebih mudah.

“Jozi, terimakasih engkau telah menganggapku sahabat. Kedatanganku menemuimu sesungguhnya hendak menyampaikan sesuatu.”

“Baiklah, setelah kau mendengar kisah panjangku, kini saatnya aku mendengarkanmu.”

“Aku sangat kagum dengan kejujuranmu dan ketulusanmu. May juga mengagumi dirimu melebihi apapun. May sering bercerita betapa engkau adalah sebuah kesempurnaan. Hanya saja, May merasa dia bukan orang yang tepat untuk mendampingimu. Dia merasa terlalu naïf untuk memahami cara berfikirmu. Dia ingin membiarkanmu bahagia karena engkau memiliki kebahagiaan itu dalam dirimu, bahkan dalam kesendirianmu engkau akan bahagia. Joz, aku menyampaikan titipan May untukmu.”

“Titipan? Oh biarkan aku memelukmu sahabat baikku. Hei! Siapa yang menikah?”

“May.”

“May?”

“Ya, May.”

“Mayku?”

“Benar, May”

“Apa tidak salah? Ini? bukankah ini fotomu? Hei!! Kau!? Kau menikahi Mayku? Oh Kau! Bukankah aku sudah memaafkannya? Kenapa dia meninggalkan aku? Kau! Anggap kita tidak saling kenal. Enyah dari hadapanku dan lupakan aku pernah menganggapmu sahabat. Itu tidak pernah terjadi!”

Denpasar, Oktober 2008

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here