workshop film

oleh Edo Wulia

Mengacu sejarahnya, film pendek menjadi format yang paling tidak pantas disematkan sebagai film indie. Karena film pendek adalah format yang mengawali sejarah film itu sendiri. Pada masa awal ini, sebuah film umumnya diproduksi menggunakan 1 reel film. Karena kondisi teknis ini, panjang sebuah tayangan film hanya sekitar 12 menit atau lebih pendek. Nama yang disematkan saat itu Motion Picture, atau diterjemahkan bebas sebagai Gambar Bergerak.

Terminologi indie film muncul pertama kali justru ketika sekelompok seniman mulai mencoba memproduksi film yang lebih panjang, dengan bereksperimen menggunakan lebih dari 1 reel film. Produksi film yang menggunakan lebih dari 1 reel ini dianggap keluar dari standar dan disebut produksi independen. Karena cara ini dianggap keluar dari yang umum.

Definisi ‘film indie’ ikut berkembang bersama sejarah film di Amerika. Lebih dipertegas lagi pada masa keemasan Hollywood pada era tahun 30 sampai 60an, dalam monopoli sistem studio yang mendunia. Batas yang membedakan produksi studio dan produksi indie sangat jelas, baik dari standard produksi, pendanaan sampai bentuk distribusinya.

Namun, ketika keruntuhan sistem studio di Hollywood pada era 60-70an, semua karya film akhirnya mengadaptasi pola produksi dan distribusi indie, karena lebih bebas dan ekspresif, dan lebih dinamis menghadapi perubahan jaman. Standar yang dulu dibuat oleh sistem studio mulai dianggap kuno atau klasik, dan perlahan ditinggalkan dan hilang. Sehingga sejak masa ini istilah film indie atau film independent dianggap tidak relevan lagi digunakan dalam industri film yang terus berkembang dinamis. Secara sederhana, karena semua sudah mengadaptasi konsep ‘indie’ dalam produksi dan distribusi mereka, sehingga standar yang membedakan sudah tidak ada lagi.

Film Indie Adalah Romantisme

Yang tersisa sekarang hanyalah romantisme tentang masa itu dan kadang-kadang masih digunakan sebagai bahasa media untuk tujuan promosi. Mungkin bisa membandingkan hal ini sebagai slogan merdeka di negara yang sudah merdeka.

Di Indonesia, terminologi ‘indie’ muncul dan populer di era 90-an dari gerakan di industri musik. Ini ketika kemajuan teknologi memungkinkan musisi-musisi di Indonesia merekam musik mereka sendiri, dan tidak lagi tergantung pada studio rekaman besar. Kondisi ini berkaitan dengan kemajuan teknologi peralatan portabel, digitalisasi dan komputerisasi yang terjadi. Studio rekam rumahan tumbuh di mana-mana.

Produksi film secara global juga semakin murah dan terjangkau. Di Indonesia ini jelas terlihat di masa reformasi sampai awal 2000. Kembali lagi karena teknologi komputer yang sudah semakin baik untuk keperluan ini. Kemudian istilah ‘film indie’ disematkan begitu saja pada film-film yang diproduksi pada masa ini. Alasannya, karena produksinya dilakukan di studio rumahan, pola yang sama seperti yang dilakukan band indie. Kedengaran juga keren.

Namun karena minimnya informasi tentang sejarah film dunia, karya-karya film ini juga sebagian besar berkualitas rendah. Sehingga, penamaan film indie di Indonesia juga seperti minta permakluman pada pencapaian kualitas ini. Dan lebih jauh lagi di Indonesia tidak memiliki kaitan apapun dengan sejarah film dunia atau keruntuhan sistem studio di Amerika.

Ini menciptakan salah kaprah selanjutnya. Kebanyakan yang diproduksi pada masa ini adalah film pendek. Alhasil, karya-karya inilah yang disebut film indie. Dalam imajinasi mereka, perbedaan film indie dan film komersil yang diproyeksikan di bioskop-bioskop hanya spiritnya saja. Sebuah spirit independen! Di sisi lain, mereka seperti melemahkan kesadaran pada perbedaan format pendek dalam penyampaian berceritanya. Kekuatan masing-masing dan perbedaan bentuk bercerita film pendek dan film panjang komersil, lepas dari fokus perhatian yang seharusnya.

Ini juga terjadi karena berbagai kondisi yang tumpang-tindih; kurangnya literasi film termasuk sejarahnya, semakin terjangkaunya teknologi dan peralatan untuk memproduksi film, serta kondisi pembajakan software di Indonesia. Tentu saja masih banyak lagi.

Kombinasi dari situasi-situasi ini menghasilkan film-film pendek dengan kualitas teknis yang baik, gambar yang bagus, namun kehilangan nilai-nilainya sebagai sebuah literatur pendek yang memiliki sejarah dan tradisi yang panjang.

Akibatnya, banyak film pendek ‘karya anak bangsa’, sebuah jargon yang sering dielu-elukan di Indonesia, berfokus pada semangat ‘indie’ tanpa wawasan literasi tentang semangat ini. Akhirnya juga tanpa kesadaran tentang format bercerita pendek. Sering terjadi, film indie yang mengadaptasi gaya tayangan bioskop atau tayangan televisi, tapi disingkat-singkat dengan dipercepat atau dipotong. Seperti sebuah film panjang yang dipendekkan.

Film pendek tidak sepantasnya disebut film indie. Mengabaikan hal ini telah menghasilkan dampak yang tidak produktif. Mungkin sebagian orang memang merasa ‘film indie’ terdengar lebih keren dari pada film pendek. Tapi benarkah begitu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here