me time ibu rumah tangga

“Yes, I believe that happiness can be achieved through training the mind” kata Dalai Lama dalam buku The Art of happiness: a hand book for living.

Dari kalimat itu saya merenungkan sebuah kejadian yang baru saja saya alami. Betapa jengkelnya perasaan saya saat sesuatu yang saya inginkan sedang dalam titik menuju pencapaian dan tiba-tiba semuanya runtuh. Saya mengibaratkan hidup saya seperti sedang membangun sebuah istana pasir yang tetiba runtuh diterjang ombak. Semuanya hanya mampir sesaat dan pergi begitu saja seakan tidak ada kesempatan untuk menikmatinya barang sekejap.

Bisa dibayangkan saat pundi-pundi tabungan baru saja menggelembung, sebuah musibah muncul dan menerjang. Bantuan harus segera diturunkan, perahu penyelamat, team SAR harus dipanggil, tenda darurat dan makanan harus dikirim, (ini bukan tsunami Aceh, ini hanya soal gangguan kesehatan) dan pundi-pundi itu mengempis kembali.

“Kapan sih ada kesempatan bersenang-senang, menikmati sedikit kebahagiaan?” hati saya sempat marah besar.

Tapi kemudian saya merasa semua berjalan dengan lancer, kesehatan membaik, segala keperluan RS tercukupi dan musibah itu berlalu dengan membawa semua isi pundi saya. Teringatlah saya pada sebuah film (saya belum ingat judulnya), ketika seorang istri sangat marah, dia memutuskan pergi membawa anak-anaknya meninggalkan suaminya sedirian. Saat berhenti untuk makan di sebuah restoran, dia bertemua dengan seorang laki-laki tua berkulit hitam yang mengajaknya bercakap-cakap.
Intinya begini:
“Jangan pernah berpikir bahwa tuhan akan memberikan semua yang kita minta, tapi Tuhan akan memberikan semua kesempatan untuk mendapatkannya. Jika kita meminta kebahagiaan maka tuhan akan memberikan kita kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Jika kita meminta kerukunan dalam rumah tangga, maka tuhan akan memberikan kesempatan bagi kita untuk membinanya.” Nah, bisa ditebak ending filmnya pasti happy.

Untuk kasus saya Tuhan telah memberikan kesempatan bagi saya untuk mengisi pundi-pundi itu, sebelum kemudian diberikan kenyataan bahwa kesehatan saya bermasalah. Dan Tuhan memberikan kesempatan pada diri saya untuk merasakan bahwa apa yang saya kerjakan dan hasilkan, sangat berguna dalam hidup ini. kalau seandainya saya diberi kesempatan makan bebek goreng di restoran, mungkin tidak akan sempat saya merenungkan bebek itu, karena sekali bersendawa, rasanya sudah lenyap.

Sepertinya kebahagiaan itu hanya bisa di peroleh dari pikiran kita sendiri, saya harus melatihnya. Kalau hanya tentang penuh tidaknya pundi yang saya miliki, mungkin hanya bahagia saat dia penuh. Kalau kosong? Melarat lagi lahir batin. Lalu, seperti yang di ungkapkan Dalai Lama, pikiran bisa dilatih untuk mencapai kebahagiaan yang sebenarnya, dan berlaku setiap saat dan dalam kondisi apapun.

Beberapa orang pernah berkata pada saya bahwa, seandainya kamu melihat kehidupan ini dari sisi jeleknya saja, bisa dijamin kepalamu akan selalu pusing mencapai lebih dari sekedar tujuh keliling. Tidak punya uang takut jadi gembel. Punya uang banyak takut kerampokan. Punya istri cantik takut diselingkuhi orang.

Ada ungkapan orang bali yang selalu “Aget” (untung). Apapun kejadian yang menimpanya. “Aget ye idup” (untung dia masih hidup) ungkapan itu sering saya dengar saat seseorang mengalami kecelakaan, padahal orang itu patah tulang pada kedua kaki dan tangannya. Atau jika korban meninggal karena kecelakaan yang parah. “Aget ye mati, padaan idup kegele-gele.” (untung dia mati, dari pada hidup sekarat/menderita). Saya menganggap ungkapan itu merupakan gaya berpikir positif yang membantu mengurangi rasa kecewa. Karena kecewa membuat kita terpuruk dan merasa semuanya sia-sia tiada guna.

Kemudian saya melatih diri saya untuk selalu berpiki pisitif, dengan harapan saya bisa menikmati hidup betapapun susahnya. Kalau sedang mengalami perasaan tidak nyaman saya akan berteriak “HIDUP INI INDAH”. Tapi ternyata susah, saya masih mengusahakannya.

“Apakah kebahagiaan tentang kedudukan dan harta semata?”

“Seperti kita mengenakan pakaian; karena merek atau kenyamanan?”

Saya pernah iri pada orang yang berprofesi sebagai dokter. Mereka di hormati, duit mengalir. Sepetinya mereka semua selalu bahagia. Tapi suatu kali saya melihat seseorang berdebat denga seorang penerima tamu klinik; intinya orang itu adalah seorang staff dealer/finance yang mencari seorang dokter yang namanya tertempel di pintu untuk urusan kredit mobil yang macet; nomor Hp tidak aktif, alamat rumah sesuai Ktp sudah kosong. Entahlah, apakah mereka bahagia? Tapi saya tetap bangga pada orang yang beersedia mengabdikan diri sebagai seorang pelayan kesehatan, apa lagi yang bersedia di tempatkan di daerah-daerah.

Satu orang lagi, dia adalah pengusaha yang mengembangkan sebuah usaha keluarga yang kini merambah keseluruh Indonesia. Kaya, banyak rumah, banyak mobil, istri cantik. Saya begitu iri dan ingin seperi dia, karena selain kaya dia juga dermawan, menyumbang sana-sini dalam jumlah besar. Apakah dia Bahagia? Saya sering melihat dia uring-uringan jika ada orang yang berusaha merebut pasar bisnisnya, selalu bertampang masam jika karyawannya bicara mengenai tunjangan kesehatan dan kesejahtraan.

Lalu di mana kebahagiaan itu?

Saya mulai percaya kebahagiaan itu ada dalam pikiran kita. Materi adalah pelengkap yang juga tidak boleh dikesampingkan. Seperti membedakan mansturbasi dan bercinta dengan pasangan, semuanya bisa mencapai orgasme. Atau makan bebek goreng di warung tenda dengan makan di restoran. Kenyangnya sama, hanya sensasinya yang beda.

Baiklah, di mana kebahagiaan itu bertahta dalam diri anda? Bolehlah berbagi dengan kita semua?

[ratings]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here