Bakteri Fotosintesis, begitu postingan tentangnya melintas di wall facebook, saya langsung teringat pelajaran biologi waktu SMP. Fotosintesis berkaitan dengan klorofil, daun, pohon dan matahari. Namun ketika dia dirangkai dengan kata bakteri, menjadi pertanyaan besar buat saya. Apa gerangan Bakteri Fotosintesis ini?

Postingan seseorang yang dibagikan oleh rekan Made Saja di Buleleng, saya tidak sanggup scrolling untuk menemukan lagi postingan itu ketika menulis tentang bakteri fotosintesis ini, ingin sebenarnya saya menyebut nama beliau seseorang itu. Dalam postingan tersebut diberi catatan adalah hasil terjemahan bebas dari youtube dan teknik yang dibagikan itu adalah rangkuman dari sebuah video seorang petania di Thailand. 

Ngomong-ngomong Thailand, Negeri Gajah Putih dengan Ibu Kota Bangkok ini sangat melekat dengan keunggulan pengembangan pertaniannya, yang sangat didukung oleh otoritas kerajaan di sana. Jaman saya kecil, jambu berbuah besar disebut jambu bangkok,  entah memang bibitnya diimpor dari bangkok atau karena apa. Termasuk ayam yang lebih besar ukurannya dari ayam kampung, juga disebut ayam bangkok hingga sekarang dengan istilah ayam BK alias bangkok. Maka dari itu, sebelum benar-benar mengenal geografi Asia Tenggara, kata bangkok saya asosiasikan dengan sesuatu yang  besar atau tinggi.

Mengenal Bakteri Fotosintesis

Ketika ada yang membagikan cara mengembangkan bakteri fotosintesis, saya jadi ingin tau, bakteri apa sih beliau ini? Saya luangkan waktu untuk browsing beberapa menit sambil menulis artikel ini, di antara suara hujan yang selalu datang setiap siang hari dalam empat hari terakhir, padahal petani sawah di dekat rumah sedang memanen padi musim pertama tahun ini.

Bakteri ini juga disebut purple bakteria atau purple fotosintesis bakteria di wikipedia. Sebutan purple mungkin karena memang warnanya di antara merah, coklat dan oranye. Penjelasan lainnya penuh dengan istilah dunia mikro biologi, bingunglah saya. Sepintas saya simpulkan, bakteri ini bekerja seperti pada proses fotosintesa pada daun, yang memproduksi atau mengolah makanan bagi tanaman hingga dia bisa tumbuh. Disebutkan juga ada saran dari sebuah riset untuk penggunaan purple bakteria ini sebagai biorefineriy.  Siapa tau kita tiba-tiba bisa bikin biodisel.

Bakteri Fotosintesis masuk dalam kategori efektif mikroorganisme yang sangat baik digunakan dalam dunia pertanian.  Pemanfaatannya banyak pada lahan sayuran, padi, tanaman bunga dan tanaman buah. Penggunaannya dapat dengan dikocor langsung di lahan pertanian atau dilakukan teknik penyemprotan pada daun dan batang tanaman. 

Sesuai namanya fotosintesis, bakteri ini bekerja saat matahari terang dan akan memproduksi gula yang akan dilepas dan dimanfaatkan oleh tanaman dan mikroorganisme disekitarnya sesuai kebutuhan. Keberadaannya dikatakan sangat efektif menurunkan penggunaan pupuk kimia, sehingga akan dapat menjag dari penurunan kualitas tanah, karena mampu mereduksi sisa-sisa penggunaan bahan kimia pada tanaman.

Cara Membuat

Saya begitu tertarik melakukan percobaan membuat bakteri fotosintesis ini, karena modalnya sangat kecil. Untuk membuat lima liter larutan, hanya membutuhkan modal dua ribu rupiah untuk membeli bahan yang memang harus di beli. 

bakteri fotosintesis

Alat dan Bahan

  • Satu butir telur mentah. (saya pakai telur ayam merah)
  • Satu sendok makan micin/MSG. (saya pakai satu saset seharga 500 perak)
  • Sendok makan. (pinjam di dapur)
  • Mangkuk. (pinjam di dapur, hati-hati jangan sampai pecah)
  • Botol bekas dengan tutupnya. (bersihkan dulu, saya pakai 5 buah botol ukuran 1 liter)
  • Air bersih.  (hitung nanti kalau tagihan PDAM datang)
  • Sinar matahari. (gratis)

Cara membuat

Siapkan mangkok, masukkan telor, jangan lupa buang kulitnya. Saya anggap kalian sudah tau cara mengeluarkan isi telur dari dalam kulitnya, sehingga tidak perlu lagi membuat tutorial cara mengupas telur mentah.

Tuangkan micin ke atas telor yang sudah di dalam mangkuk, kemudian aduk hingga merata. Saya mengaduknya hingga butiran-butiran micin tidak terlihat lagi. Saya tidak perlu mengocok telor hingga mengembang, karena ini bukan cara membuat kue bolu.

Isi botol yang sudah bersih dengan air bersih, tak perlu minta bantu mbak Asih, isi sendiri saja. Sisakan ruang kosong sekitar satu centimeter di bawah leher botol, tidak perlu pakai penggaris, cukup kira-kira saja, ini bukan pelajaran ilmu ukur.

Langkah selanjutnya, masukkan campuran telur vs micin ke dalam botol yang sudah isi air. Saya menggunakan takaran; 1 liter air diisi 2 sendok makan campuran telur vs micin, lalu jungkir balikan botol agar tercampur rata, ingat bolotnya ditutup dulu dengan rapat agar tidak terjadi kekacauan.

Setelah semua botol terisi, letakkan di tempat yang terkena sinar matahari langsung sepanjang hari.  Ingat untuk memeriksa tekanan botol dengan melonggarkan tutup botol. Langkah terberat adalah menunggu 15 – 30 hari hingga cairan putih di dalam botol berubah menjadi purple, karena ini adalah purple bakteria. Kesabaran dibutuhkan pada tahap ini, karena kita hanya berusaha dan alam yang akan berproses memberikan manfaat terbaik.

Mau lihat foto hasil fermentasi, kembalilah tanggal 10 Mei 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here