Di masa sibuk dengan pekerjaan, meeting, tugas; kata #DiRumahAja seperti janji surga, too good to be true. Di rumah aja dengan tetap dibayar, tetap ada piutang proyek yang sudah diinvoice, bisa ngumpul-ngumpul dan ngerumpi sebebasnya, mau jalan kemana aja ayo; itulah surganya. Beda dong dengan di rumah aja versi saat ini dalam masa pandemi covid 19.

Sudah cukup panjang rasanya slogan di rumah aja atau work from home (WFH) terdengar dan disodok-sodok di media sosial dan media publik agar dilakukan oleh semua orang. Ditambah dengan ajakan untuk tetap produktif, berkarya, melakukan sesuatu yang positif saat status ‘positif’ dihindari. Produktif dalam kesunyian, yang sering dianggap suasana terbaik untuk mencapai titik meditatif agar ide-ide segar muncul. Selama ini, banyak orang yang ingin mendapat ide brilian kadang butuh tempat sepi, menepi ke villa-villa sunyi, memuja kesendirian, termenung bersama berlinting-linting tembakau; tapi ternyata kita takut juga dengan kesunyian yang ramai dan berkepanjangan ini.

Produktif Saat WFH #DiRumahAja

Saya yakin tidak ada satupun dari kita bisa berhari-hari hanya berdiam diri, hanya melakukan hal impian ini; bangun tidur, makan dulu, tidur lagi. Demikian juga dengan banyak teman saya, baik yang saya kenal dan sering bertemu langsung ataupun yang saya kenal tapi lebih sering berinteraksi jarak jauh melalui media sosial. Mereka mencari cara untuk melakukan sesuatu dengan perangkat digital dan jaringan internet, untuk dapat melakukan kesenangan mereka.

Bligungyudha di Denpasar membuat  musik, Komunitas Mahima Buleleng mendongeng di Facebook, Komunitas Kertas Budaya Jembrana mebuat pentas baca puisi di Facebook, dan banyak lagi yang berbuat melalui berbagai kanal siaran langsung di Instagram, diskusi dengan aplikasi skype atau zoom. Sayangnya saya tidak selalu bisa menikmatinya karena keterbatasan quota internet. Oh ya, saya adalah gambaran masyarakat luar kota dengan keterbatasan akses internet, termasuk sebagai orang tua dengan anak yang belajar di rumah. Maaf, ini bukan keluhan agar dikasi bansos internet gratis, cuma harapan saja. Dengan keterbatasan, saya juga berusaha produktif di kancah online, dengan tetap menulis di blog dan meluncurkan kanal podcast.

Diluar dunia online ini atau dunia yang tidak teronlinekan atau tidak mengonlinekan diri, masyarakat masih tetap produktif pada bidang-bidang profesi atau minat masing-masing. Ada yang tetap bisa beraktivitas rutin seperti sediakala, ada juga yang mencoba aktivitas baru karena telah meninggalkan aktivitas atau pekerjaan sebelumnya.

Berkarya Dengan Tetap Jaga Jarak

Slogan jaga jarak sesungguhnya sudah populer dan disadari dapat menghindarkan kita dari kejadian buruk, kecelakaan. Terutama di jalan tanjakan karena banyak truk kadang gagal pindah gigi dan tiba-tiba mundur. Terlindaslah kau jika tidak jaga jarak. Ancaman terlindas truk boleh jadi gambaran bagaimana covid-19 akan menjangkiti kita, jika tiba-tiba orang di dekat kita adalah orang positif. Tetap jaga jarak ya.

Kembali kepada teman-teman saya, Bligungyudha. Mahima dan Kertas Budaya saya ceritakan kemudian.

Bligungyudha adalah nama akun Instagram dari Agung Yudha, seoarang kawan lama sekali yang saya kenal sejak beliau masih SMA di SMAN 3 Denpasar, tapi jangan kira saya anak Trisma. Gung Yudha, baru saja mempublikasikan Rehat, single perdana saat pandemi dengan mengusung brand Bligungyudha sebagai solois, terlepas dari brand MR HIT sebagai sebuah band.

Dalam pengantar rilis singlenya, Gung Yudha mengungkapkan Rehat adalah hasil work from home selama 11 hari, dari pengerjaan materi musik dan lirik, hingga disebarluaskan pada tanggal 1 April 2020.

“Rehat adalah sebuah refleksi kita sebagai manusia kepada Bumi tempat kita hidup. Dari awal peradaban manusia berkembang hingga saat ini kita menghadapi wabah. Itu benar adanya. Namun pada akhirnya, hal – hal yang kita lakukan sekarang untuk bisa bertahan hidup juga memberikan kesempatan bagi Bumi untuk bernafas. Selain itu, saat ini kita melihat semua manusia di seluruh dunia bahu membahu dalam menghadapi krisis. Kita juga lebih peduli dengan kesehatan. Dengan pembatasan diri keluar dari rumah, polusi juga menurun dan kualitas udara membaik,” tutur Gung Yudha. 

Kalau kalian nati sempat menyimak single Rehat, ada mode paduan suara dalam reffnya, yang direkam dengan ponsel masing – masing oleh Dewa Aditya, Wida Yuniati, Wayan Rya, Leo Ibel, Wiramartha dan Anik Widi. Untuk Artwork, Bli Gung Yudha juga menggandeng secara physical distancing Adit Onox untuk goresan penanya dan Oka Rama sebagai background lukisannya. Semua hasil kerja dikirimkan melalui ponsel, untuk kemudian dimixing dan melahirkan Rehat.

Pementasan Dari Rumah Masing-Masing

Seperti perut lapar yang ingin makan, Komunitas Mahima di Buleleng dan Kertas Budaya di Negara – Jembrana, kelihatannya juga kelaparan.  Mereka mengobati kelaparan mereka dengan melakukan pementasan online yang kita bisa lihat langsung dan nikmati dengan mata kepala sendiri siapa yang tampil, walaupun tetap ada orang di belakang layar yang tidak terlihat, yang membuat peristiwa itu terjadi.

Dalam akun facebooknya,  Sonia Piscayanti sebagai salah satu pengasuh Komunitas Mahima menulis, Komunitas Mahima meluncurkan gerakan Mahima Mendongeng untuk mengisi kegiatan belajar di rumah bagi anak anak. Ide ini dilemparkan seorang sahabat I Putu Arya Wiguna yang juga penggiat literasi. Hal ini agar anak anak mendapat asupan tontonan yang lebih variatif dan bergizi. Para pendongeng boleh siapa saja yang berminat mendongeng dan disiarkan live di Facebook. Silakan para pendongeng boleh mendaftar. Semua gratis tidak berbayar. 

Dari pantauan saya di Facebook, Mahima Mendongeng Live setiap pukul 16:00 Wita, melalui akun Facebook pribadi pendongeng dari rumah masing-masing. Pendongeng yang sudah tampil diantaranya Cok Sawitri, Made Sugianto, Adnyana Ole dan Juli Wirahmini.

Berbeda dengan Komunitas Mahima yang secara teknis memilih untuk live atau siaran langsung, Kertas Budaya melakukannya dengan teknik rekaman di rumah masing-masing dan dikumpulkan untuk dipiblikasikan melalui satu akun yaitu akun Facebook pentolannya Wayan Udiana alias Nanoq Da Kansas.

Dalam pengantar publikasi rekaman baca puisi di akun facebooknya, Nanoq menulis, Anak-anak Komunitas Kertas Budaya baca puisi di rumah masing-masing. Sudah satu bulan kami tak pernah kumpul. Tapi masih tetap seperti biasa.

Tampil membacakan puisi dalam pentas di rumah masing-masing ini adalah Sartika Handayani, Della Bianchi, Kanahaya Elang Rafel Mahardika, Kade Yuli dan Mirah Krisnadevi.

Alam Semesta Sedang Rehat

Situasi yang membuat kalang kabut, bukan hanya masyarakat, dunia kerja dan industri, tapi juga pemerintah, hingga keputusan terbaru adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita tetap sehat dan produktif.

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip lirik lagu Rehat, sebuah single Bligungyudha yang bisa disimak di spotify, youtube atau kanal  lain kesukaan anda.

[•••]
Keramaian dibatalkan
Para pemimpin mencari kesepakatan
Rapat di dunia maya
Penentuan nasib rakyat jelata

Puja bakti dalam hati
Rangkai harap dalam diri yang menyepi

Peradaban yang beristirahat
Manusia yang mencoba bersahabat
Kapankah kita akan kembali sehat
Atau bumi diberi kesempatan rehat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here