Dalam catatan benak saya, Covid-19 yang merebak di Indonesia awal tahun 2020 menjadi hantaman paling telak bagi sektor pariwisata Bali, setelah kejadian bom tahun 2002 yang menelan korban jiwa 202 orang. Btw, saya tidak akan membahas fenomena angka 2 dan 0.

Namun demikian situasinya, di tahun 2021, usaha wisata masih menjadi impian besar. Sebuah gambaran indah untuk meraup untung dari upaya memenuhi hasrat berlibur, melepas penat dari rutinitas, menikmati keindahan alam, menambah pengetahuan atau sekedar piknik keluarga dan swafoto dari para pelancong.

Saat usaha wisata terjatuh ke titik bawah, beberapa titik daya tarik wisata malah terus dikembangkan oleh Pokdarwis di Kabupaten Jembrana. Sebut saja kawasan Karang Impian yang mulai aktif, Munduk Nangka yang cukup ramai dikunjungi, Belimbing Sari, Ambenan Ijogading Loloan Timur, Pokdarwis Gumrih juga menggeliat, wisata mangrove di Prancak dan Budeng juga mulai berpromosi di tahun 2020.

POKDARWIS – Kelompok Sadar Wisata

Kelompok sadar wisata atau Pokdarwis, terdengar aneh di telinga Ibu saya. Setelah obrolan sore bersama beberapa kawan, dia bertanya. “Siapa itu Pak Darwis, kenapa ngobrolnya tentang Pak Darwis dan Pak Merkus?” Hem, mau ngakak takut dosa, karena katanya surga ada di bawah telapak kaki Ibu.

Pak Darwis hanya fenomena salah dengar sebagai kosakata baru bagi Ibu saya. Namun pak Merkus, adalah fenomena yang terkait hutan, sawah dan petani di desa kami. Tapi maaf saya akan bahas tentang Pak Merkus lain kali saja.

Kembali ke Pokdarwis. Karena obrolan sore itu, saya ikut sadar karena ada kesadaran baru tentang wisata, dan ada kesediaan untuk berdiskusi, menumpahkan gagasan dan mimpi.

Pada dasarnya Pokdarwis dibentuk dan dijalankan sebagai penyangga aktivitas kewisataan yang ada di sebuah desa atau kawasan. Pokdarwis menjadi gerakan swakarsa yang diharapkan dapat menjamin kesadaran masyarakat akan keutuhan destinasi dan usaha-usaha wisata di kawasan tersebut, yang mengacu pada konsep sapta pesona.

Lalu bagaimana jika kesadaran Pokdarwis muncul di desa yang belum memiliki objek daya tarik wisata? Maka kelompok yang menghimpun diri akan menjadi pembuka jalan menuju kemunculan sebuah daya tarik wisata. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana impian dapat terjadi dan menapak ke tanah, bukan menjadi impian yang melayang di awang-awang dengan ingin menciptakan Ubud baru, Kuta yang lain, Tegalalang yang baru atau dan atau.

Kalau kita lihat; Kuta, Ubud, Tegalalang, awalnya hadir seperti apa adanya, hingga kapital mengupgrade mereka menjadi seperti sekarang dengan segala perhiasan dan lipstiknya yang membuat kecantikan aslinya tergerus; atau mereka memang mulai menua.

Dengan membaca kebutuhan wisata adalah lebih utama untuk memenuhi hasrat kesenangan, maka sesuatu yang menua dan membosankan akan segera ditinggalkan. Saya rasa kita butuh gerakan membangun wisata anti-aging, agar gerakan Pokdarwis baru, nantinya akan terhindar dari penuaan dini dan terjadinya ejakulasi dini yang membuat semangat mereka letoi di tengah jalan.

Sadar Wisata dan Wisata Sadar

Pokdarwis di Jembrana hadir untuk memberikan solusi bagi pengembangan potensi desa secara mandiri, sekaligus sebagai jawaban atas kesadaran dan kebutuhan berwisata dari masyarakat lokal.

Perlu disadari pula bahwa kebutuhan berwisata adalah kebutuhan tersier, yang artinya merupakan keputusan ke sekian dari berbagai hal yang harus diputuskan terlebih dahulu. Misalnya antara mencoba mengendarai ATV dibandingkan beli beras.

Pembangunan sektor wisata hendaknya memikirkan tingkat kebutuhan masyarakat yang penting, lebih penting, sangat penting dan mendesak. Jangan sampai membangun ketika ada janji pundi-pundi dari wisata. Menjaga kebersihan hanya karena agar wisatawan terhibur, jalan baru diperbaiki ketika ada investor buka sarana wisata, eksploitasi seni dan budaya hanya untuk wisata.

Setelah program sadar wisata, perlu dikembangkan program wisata sadar; baik itu oleh pemangku kebijakan, pemerintah desa dan masyarakat. Kembangkanlah sadar merawat pertanian, sadar memelihara hutan, sadar kebersihan dan kesehatan lingkungan, sadar melakoni seni dan budaya serta sadar-sadar lainnya, yang bukan hanya selogan kampanye belaka.

Sebagai contoh; ketika kesadaran memelihara hutan terjadi maka air kita terjaga, pertanian terairi, pangan kita aman, anak kita bisa sekolah, dan hutan lestari akan menjadi kawasan wisata yang menarik; mulai dari penjelajahan alam, kemping, pengamatan satwa, permainan luar ruang dan sebagainya.

Sadar bahwa apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita, maka kita akan senang dan aura positif akan menyebar, sehingga orang akan datang untuk bersenang-senang bersama kita. Itulah wisata.

SHARE
Pencerita yang suka berbagi melalui tulisan, foto, tarot dan film yang terus didalami dan dinikmati. Tahun 2019 mengeluarkan buku kumpulan cerpen Politk Kasur, Dengkur dan Kubur. Beraktivitas bersama Minikino, Film Sarad, Mipmap dan Bali Tersenyum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here